38.464 Jiwa Menganggur,Hipmi Tantang Generasi Muda Berwirausaha

Ketua Bidang UKM BPD Hipmi Sulbar, Mulyadi (kiri) dan anggota Dewan Pembina BPD Hipmi Sulbar, Andi Baso (kanan)(photo:sul)

Banniq.com.Mamuju

Tak  disangsikan , pertumbuhan wirausaha muda lokal di Mamuju menunjukkam trend positif. Namun, masih menyisakan sejumlah persoalan, setidaknya untuk saat ini.

Pertumbuhan itu bisa ditemui pada berbagai bidang usaha di beberapa wilayah yang diprakarsai oleh anak-anak muda. Dari produk rumahan seperti kue dan roti, keripik, baju hingga usaha perkafean. Penjualan pun dilakukan melalui via daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan).

Salah satunya Nur Aisyah Ilham Atjo, perempuan berusia 24 tahun yang tinggal di Jalan Ahmad Kirang Mamuju, memulai usahanya dari rumah. “Ayo dipesan kuenya,” tulisnya diakun instagram @ninsky_brownie yang diunggah pada selasa, 20 Juni lalu. Unggahan itu juga diikuti dengan gambar kue ulang tahun yang dijualnya.

Nur Aisyah tidak sendirian, masih banyak anak muda lain yang memulai usahanya dari industri rumahan kemudian memanfaatkan sosial media untuk kepentingan penjualan. Seperti akun @ccilukba, @goodkedai.mamuju dan @makaroni_tole.

Alasannya tidak usah ditanya, tentu biaya yang dikeluarkan jika mereka menyewa tempat tidak sedikit. Dan itu tidak sebanding dengan kalkulasi untung rugi yang telah diperhitungkan sebelumnya. “Terima kasih sudah membeli,” unggahan lain di akun instagram @makaroni_tole yang memperlihatkan foto pelanggan sedang memegang produk keripik kemasan makaroni, pada 3 Maret lalu.

Lain halnya dengan pemuda yang akrab disapa Wawan, Warga Kelurahan Binanga, Mamuju yang juga memiliki usaha penjualan baju kaos dan produksi jilbab. Selain komoditasnya dipasarkan di media sosial, juga dijual di tepi jalan Yos Sudarso, Mamuju, setiap harinya.

Merespon perkembangan tersebut, Ketua Bidang UKM Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Sulbar Mulyadi mengingatkan, pertumbuhan minat bisnis anak muda yang tidak didukung dengan sinergitas kebijakan pemerintah daerah akan menyulitkan mereka untuk berkembang dalam menghadapi persaingan yang semakin terbuka.

“Misalnya dikasih suntikan modal tambahan untuk mengembangkan usaha tadi atau pelatihan-pelatihan dan sosialisasi. Itu penting, supaya kita tahu apa yang ingin dicapai,” jelas Mulyadi yang juga dosen mata kuliah kewirausahaan di Universitas Tomakaka Mamuju, saat berbincang di warung kopi Global, Jalan Diponegoro Mamuju, Selasa 20 Juni.

Selain itu, ditempat yang sama, pendapat berbeda dikemukakan oleh salah satu anggota Dewan Pembina BPD HIPMI Sulbar, Andi Baso. Menurutnya, masalah pertumbuhan wirausaha muda lokal juga menemui kompleksitas. Antara lain pola pikir masyarakat yang orientasinya hanya ingin menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Akibatnya, iklim wirausaha tidak tercipta.

“Kebanyakan anak muda setelah kuliah hanya mau menjadi pegawai (sekarang ASN, red). Atau tiba-tiba jadi ‘tim sukses’ dan terjun ke politik. Pola pikir yang demikian itu menghambat anak muda untuk terjun ke dunia wirausaha,” keluhnya.

Padahal, wirausaha berkontribusi besar terhadap kemajuan ekonomi daerah serta mampu mengatasi masalah pengangguran. “Semestinya harus punya kemauan untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan bukan malah mencari lapangan kerja,” tambahnya.

Sebagai perbandingan, pernyataan tersebut mengonfirmasi data terakhir BPS Sulbar tahun 2015 yang diakses melalui laman www.bps-sulbar.go.id, menunjukkan jumlah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sulbar mencapai 3,35 persen dari total jumlah penduduk 1.282.162 jiwa. Itu artinya, jumlah pengangguran di Sulbar sebanyak 38.464 jiwa.

TPT adalah indikasi tentang penduduk usia kerja yang termasuk dalam kelompok pengangguran.

Sementara data lain yang bisa menjadi peluang untuk mencetak pelaku usaha adalah total jumlah penduduk usia produktif di Sulbar dalam rentan usia 15 hingga 64 tahun yang mencapai 802.635 jiwa pada tahun 2014 lalu. Setiap tahunnya jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan transisi usia yang sebelumnya kurang dari 15 tahun kini menjadi 15 tahun.

“Sulbar punya potensi besar untuk menumbuhkan pelaku usaha. Hanya kemauan anak muda yang perlu dibangun,” tegas Baso.

Olehnya itu, Baso mengatakan, perlu ada inovasi bersama bagaimana menumbuhkan minat anak muda agar berani mengambil resiko untuk terjun ke dunia bisnis, tentu butuh kerjasama yang melibatkan seluruh stakeholder. “Kalau finansial urusan kedua, karena bisa didapat lewat bermitra, misalnya KUR (Kredit Usaha Rakyat, red). Termasuk Hipmi sendiri akan fasilitasi untuk mendapatkan modal. Intinya kemauan dulu,” tegasnya.

Dalam perbincangan tersebut terdapat juga beberapa anggota Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia (Apindo) Sulbar serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulbar yang mengemukakan pendapat senada. (kif/s)

Berita Terkait: