Anggota DPRD Majene Bantah Rubah Titik Pengerjaan Jalan Ulumanda

Anggota DPRD Majene, Basri Ibrahim(photo: chali)

Banniq.com, Majene -Anggota DPRD Majene Dapil Malunda-Ulumanda, Ir Basri Ibrahim menanpik rencana permintaan pemindahan titik pekerjaan pembangunan jalan poros Salutambung-Urekang tahun 2018 yang ditempatkan di Ba’ba Sondong Desa Kabiraan.

Keterangan itu disampaikan Basri melalui pesan elektronik Whatsapp, Selasa, 13 Februari 2018.

Menurutnya, permintaan perubahan titik nol yang dimaksud adalah meminta seluruh ruas poros Salutambung-Mambi agar masuk dalam agenda perencanaan pembangunan Pemprov Sulbar lima tahun mendatang.

“Ini mau diluruskan, Pemkab Majene akan mengajukan surat ke provinsi untuk meminta SK Gubernur 2015 ditinjau ulang untuk dirubah cover-an ruas jalan,” kata Wakil Ketua Komisi III DPRD Majene ini.

Kata dia, surat Keputusan (SK) Gubernur tahun 2015, hanya meng-cover ruas Ba’ba Sondong-Urekang sebagai tanggung jawab Pemrov Sulbar. Padahal faktanya, jalan ini nyaris semua mengalami kerusakan dari jalan Trans Sulawesi (Salutambung) hingga ke Mambi.

Ia menceritakan, saat itu DPRD Majene bersama Pemkab Majene melakukan kunker  ke  dinas PU Provinsi Sulawesi Barat terkait keseriusan pemerintah untuk melanjutkan pembangunan jalan Salutambung – Urekang.

Dalam kunjungan itu diketahui ada dana DAU 9,5 Miliar untuk pembangunan jalan yang titik pekerjaannya di Ba’basondong  -Urekang.

Berdasarkan keterangan PU Provinsi, sambungnya, tanggung jawab wilayah kerja provinsi di Ba’ba Sondong didasarkan SK Gubernur tahun 2015.

Sedangkan  ruas jalan Salutambung sampai kantor camat Ba’ba Sondong masih tanggung jawab kabupaten.

Padahal Disisi lain ruas jalan Salutambung ke Urekang sudah menjadi status jalan nasional.

“Maka kami berpandangan jangan ada lagi tanggung jawab kabupaten karena ini berada pada ruas yang sama, sehingga diminta untuk meninjau ulang kembali SK Gubernur tahun 2015 untuk tidak membagi ruas wilayah pekerjaan,” dia menegaskan.

Dalam diskusi itu, kata dia pihak PU meminta kepada Pemkab Majene agar menyurat ke Provinsi untuk meninjau kembali SK tahun 2015 itu dan memohon agar titik intervensi wilayah kerja Pemprov kembali ke perencanaan awal desain pembangunan jalan di mulai dari Salutambung ke Urekang.

“Sehingga  tidak ada lagi ruas jalan yang menjadi tanggung jawab kabupaten,” tandas dia.

Dia menjelaskan, agar tidak berkonsekwesi hukum di kemudian hari maka Pemkab Majene diminta menyurat ke Pemerintah Provinsi.

Setelah surat itu sudah ada maka akan menjadi dasar PU mengkonsultasikan usulan itu ke Kejari dan BPKP Sulawesi Barat. Setelah setelah sebelumnya Gubernur menyetujui permohonan itu.

“Jadi tidak ada pembicaraan tehnis pekerjaan, kami paham urusan tehnis itu urusan lembaga tehnis, kami hanya bicara perencanaan jalan dan kebijakan untuk tidak ada lagi pembagian ruas pekerjaan antara Pemkab dan Provinsi apalagi jalan tersebut sudah menjadi jalan Nasional strategis Provinsi yang murni pekerjaan jalan domainnya Pemprov Sulbar,” dia mengungkapkan.

Sebelumnya, Kerukunan Keluarga Mahasiswa Ulumanda (KKMU) Kota Makassar menyatakan menolak secara tegas perubahan penempatan titik nol pekerjaan pembangunan Jalan Poros Salutambung-Urekang tahun anggaran 2018.

Melalui keterangan tertulisnya, Ketua KKMU Kota Makassar, Haidir Ali mengatakan, yang menjadi permasalahan utama akses jalan Ulumanda selama ini ada di titik gunung Tandeallo.
“Jadi kalau kita benar-benar memikirkan asas manfaatnya ke masyarakat banyak, harusnya tidak usah dialihkan karena titik jalan paling parah itu di Tandeallo. Kalau dipindahkan ke bawah ke Langngoliang maka titik ini tidak akan tersentuh, kasian masyarakat bagian atas,” kata Haidir, Jumat, 9 Februari 2018.

Alasannya, ruas Langngoliang-Kabiraan saat ini aksesnya sudah lebih baik jika dibandingkan dengan daerah Tandeallo. “Sehingga kami harap dinas PU Provinsi tidak perlu mengubah titik, kita dukung tetap di Ba’ba Sondong,” ucapnya.

Penolakan perubahan titik nol jalan ini tidak hanya datang dari mahasiswa, Kepala Desa Popenga Kecamatan Ulumanda, Muslimin mengatakan hal senada.

Kepada wartawan, Jumat, 9 Februari 2018. Muslimin mengatakan titik terparah jalan poros Salutambung-Urekang berada di gunung Tandeallo dalam ruas Ba’ba Sondong-Urekang.

Sehingga kata dia mestinya tidak boleh terabaikan titik tersebut. “Kalau saya tidak masalah titik nolnya di Langngoliang, tapi yang rusak dibagian bawah kan tidak seberapa dibanding yang di atas (Tandeallo, red) maka sebaiknya tetap dikerjakan di bagian atas,” ucap Muslimin.(cha/s)

Berita Terkait: