Hidup Sebatang Kara, Kisah Kindo Haqdara Begitu Memprihatinkan

Banniq.com, Polman

Malang nian nasib Jamilah, di usia senjanya nenek tua ini harus hidup sebatang kara. Tanpa ada satupun keluarga yang menemaninya.

Sudah puluhan tahun warga lingkungan Lemosusu kecamatan Limboro kabupaten Polman ini hidup menyendiri. Dahulu, ia punya anak semata wayang bernama Hadara. Namun karena penyakit Kanker payudara yang menderanya, sehingga Hadara harus lebih dahulu menghadap sang Ilahi. Sebelumnya suami Jamilah, yaitu Kaseng juga sudah lebih dahulu meninggal karena sakit.

Saat penulis bertandang di kediamannya, nenek yang berusia sekira 100 tahunan ini sedang mengumpulkan batang kayu kering untuk dijadikan kayu bakar di beranda rumahnya. Ia terlihat masih begitu kuat mematahkan beberapa batang kayu dengan tanganya hingga menjadi beberapa bagian.

Penulis lalu mencoba melihat isi dalam ruang rumah kayu yang berukuran sekira 3 X 5 ini. Pemandangan yang tidak kalah memilukan juga tersaji di ruang ini. Penulis seakan segan menapaki lantai yang terbuat dari bambu ini.

Betapa tidak, dari penampakan tekstur bangunannya saja, terlihat begitu rapuh. Tak ada perabotan di dalamnya apalagi barang berharga. Yang ada hanya tumpukan kain lusuh dan usang serta Baligo Legislator Senayan asal Sulbar, dijadikan sekat dalam rumah itu.

Tidak kalah dengan lantainya, dinding yang terbuat dari Gamacca serta atap dari daun Nipah juga begitu memprihatinkan. Kondisi ini jelas karena bangunan yang sudah tua dan tak pernah mandapat sentuhan perbaikan. Apalagi soal penerangan atau aliran listrik PLN, tidak akan kita temui di sini.

Menurut salah satu keluarga terdekatnya, Fatimah (45), kindo’ Hadara sebutan akrab nenek ini, memilih hidup sebatang kara karena sudah nyaman di rumahnya. Fatimah sering mengajak kindo’ Hadara menginap di rumahnya namun ditolak.

“Dulu pak, dia (Kindo’ Hadara) waktu masih sehat dia sering bermalam di rumah saya, sekarang sudah tidak,” ucapnya.

Menurut Fatimah, sejak sepeninggal anaknya, Kindo’ Hadara mulai mengalami gangguan kesehatan jiwa. Ia sering memarahi beberapa keluarganya yang mengunjungi rumahnya.

“Tidak sembarang orang yang datang ke rumahnya, nanti orang yang dia senangi,” sebutnya.

Namun begitu, Fatimah mengatakan Kindo’ Hadara masih tetap bersikap ramah kepada orang lain yang datang mengunjunginya.

Untuk kebutuhan makan dan minum, kindo’ Hadara memasak sendiri. Terkadang juga ia mengharapkan bantuan tetangganya jika sedang sakit.

“Kalau sedang sakit kita bawakan makanan, dia paling suka makan ubi atau pisang,” katanya.

Fatimah yang masih merupakan cucu Kindo’ Hadara, dari saudara kindo’ Hadara ini, mengaku selama ini, neneknya itu belum pernah mendapat bantuan dari Pemerintah. Ia menyebut bantuan berupa uang tunai hanya diperoleh dari donasi warga setempat yang prihatin terhadap kondisi kindo’ Hadara.

“Selain bantuan beras Raskin, tidak ada bantuan dari pemerintah, bantuan biasa didapat dari warga saat lebaran. seperti dokter puskesmas Limboro yang sering kasi uang,” ungkapnya.

Memang beberapa tahun lalu, kata Fatimah, Kindo’ Hadara pernah masuk dalam kategori penerima bantuan bedah rumah, namun kerena ketidak lengkapan dokumen sehingga Kindo’ Hadara tidak sempat menikmati bantuan dari pemerintah itu.

Atas kondisi ini, Fatimah berharap ada bantuan dari berbagai pihak, terlebih dari Pemerintah. Ia tidak berharap banyak, namun sekiranya kondisi rumah Kindo’ Hadara yang sudah tidak layak huni itu mendapat perhatian, apalagi didiami Manula yang rentang terserang penyakit.

Sementara itu, Lurah Limboro Saribulan mengaku prihatin atas kondisi yang dialami warganya itu. Ia mengatakan pihaknya sudah berupaya memberikan bantuan. Namun kerena keterbatasan pihaknya hanya mampu memberikan bantuan berupa beras raskin.

“Mau bagaimana lagi pak, hanya itu yang bisa kami bantukan, tapi kita sudah mendata beberapa warga kami yang mengalami kondisi yang memprihatinkan, kami juga sudah mengusulkan kartu Jaminan Kesehatan,” imbuhnya(chali/smd)

Berita Terkait: