Jual Ragam Potensi Wisata, Dispop Polman Kembali Gelar Pifaf

Salah satu kegiatan PIFAF tahun 2017(photo:repro)

BANNIQ.COM.Polewali. Untuk menjual beragam potensi wisata yang dimiliki kabupaten Polman, Kembali Dispop Polman akan menggelar Polk And Art Festival(PIFAF) yang diagendakan pada tanggal 31  Juli nanti., setelah sukseses menggelar kegiatan serupa di tahun 2017.

Sekertaris Dipop PolmanMustari Mula menjelaskan  bahwa mengenai pentingnya  PIFAF  diadakan,  dengan dukungan anggaran yang cukup besar.

” Alasannya kemudian karena Mungkin agak kurang tepat jika setiap penggunaan anggaran kegiatan pemerintah daerah selalu diarahkan pada satu sektor saja, misalnya pembangunan infrastruktur.
Karena pada dasarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang setiap tahun ditetapkan oleh Pemerintah Daerah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sudah disusun sedimikian rupa sesuai dengan porsinya masing masing,” ujarnya..

Ditambahkan Mustari,  anggaran yang dimaksud yakni  untuk mendukung program dan anggaran yang disiapkan untuk mendukung fungsi Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

” Anggaran mendukung program biasanya terkait dengan pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan, pemberdayaaan masyarakat penanggulangan kemiskinan dan lain-lain” Timpalnya.

Presentase dan jumlahnya sebut Mustari, sudah sangat jelas porsinya. Sementara anggaran untuk mendukung fungsi adalah anggaran telah disiapkan untuk mendukung fungsi organisasi yang telah dibentuk.

Kemudian penganggaran untuk organisasi yang dibentuk seperti , OPD yang menangani pelayanan perizinan, OPD yang menangani Arsip dan Perpustakaan, OPD yang menangani penanggulangan bencana, OPD yang menangani Pemuda, Olahraga dan Pariwisata dan lain lain.

Terkait pembangunan sektor pariwisata di Polman sambung Mustari, ada dua bidang yang telah dibentuk untuk mendukung pembangunan sektor ini. Yaitu Bidang Usaha Pariwisata dan Bidang Promosi Pariwisata. Agar kedua bidang ini berjalan sesuai dengan fungsinya maka dialokasikanlah anggaran untuk mendukung fungsinya.

Bidang promosi pariwisata,sambung Mustari,  misalnya setiap tahun diberi anggaran khusus untuk membiayai promosi pariwista. Model kegiatan promosi inilah yang berbeda-beda setiap daerah. Ada yang menggunakan dana promosinya melalui misi kesenian dengan mengajak tim kesenian keluar negeri sambil mempromosikan potensi wisata daerahnya.

Kalau model ini yang dilakukan tentu membutuhkan biaya besar namun hasilnya kadang tidak efektif. Ada juga menggunakan dana promosi melalu media cetak dan elektronik. Dan, ada juga daerah yang menggunakan promosi pariwisatanya melalui media luar ruang dan media interpersonal.

Salah satu media promosi pariwisata yang paling banyak dilakukan di dunia ini, maupun di Indonesia adalah promosi wisata melalui even baik dalam bentuk festival maupun dalam bentuk perhelatan olahraga.

Contoh Thailand, Jepang, Banyuwangi, Jember, Jogjakarta dan lain lain. Hal ini didasarkan pertimbangan bahwa promosi melalui even manfaatnya berdampak ganda karena selain para peserta festival berfungsi sebagai tim penampil juga berfungsi sebagai tim promosi pariwisata yang akan mempromosikan daerah yang dituju melaui media sosial (Endorser).

Dan yang paling penting mereka juga adalah wisatawan. Kalau event PIFAF selalu dikaitkan dengan pembangunan infrastruktur dan dianggap kegiatan seremoni tentu agak kurang tepat. Karena dana yang digunakan bukan dana pembangunan jalan dalam APBD, bukan dana pembangunan jaringan listrik yang dikurangi, bukan dana pemberdayaan masyarakat yang ditiadakan, bukan dana pelayanan kesehatan dan pendidikan yang dialihkan tetapi dana yang digunakan mendukung fungsi bidang promosi pariwisata yang memang telah dianggarkan setiap tahun dalam APBD.

Ada atau tidak ada PIFAF, dana untuk kegiatan promosi pariwisata memang telah disiapkan di APBD, tinggal memilih bentuk media promosi apa yang digunakan. Semua bentuk media promosi itu sudah terangkum dalam even PIFAF. (Smd)

Berita Terkait: