Masyarakat Tolak Titik Perbaikan Jalan Poros Ulumanda

Banniq.comMajene -Kerukunan Keluarga Mahasiswa Ulumanda (KKMU) Kota Makassar menyatakan menolak secara tegas perubahan penempatan titik nol pekerjaan pembangunan Jalan Poros Salutambung-Urekang tahun anggaran 2018.

Melalui keterangan tertulisnya, Ketua KKMU Kota Makassar, Haidir Ali mengatakan, yang menjadi permasalahan utama akses jalan Ulumanda selama ini ada di titik gunung Tandeallo.
“Jadi kalau kita benar-benar memikirkan asas manfaatnya ke masyarakat banyak, harusnya tidak usah dialihkan karena titik jalan paling parah itu di Tandeallo. Kalau dipindahkan ke bawah ke Langngoliang maka titik ini tidak akan tersentuh, kasian masyarakat bagian atas,” kata Haidir, Jumat, 9 Februari 2018.

Menurutnya, ruas Langngoliang-Kabiraan saat ini aksesnya sudah lebih baik jika dibandingkan dengan daerah Tandeallo. “Sehingga kami harap dinas PU Provinsi tidak perlu mengubah titik, kita dukung tetap di Ba’ba Sondong,” ucapnya.

Sebelumnya, sejumlah warga dan Kepala Desa mengatasnamakan diri perwakilan masyarakat Ulumanda bersama pihak DPRD dan perwakilan Pemkab Majene mendatangi kantor PU Provinsi Sulbar, Kamis, 8 FebruariĀ  kemarin. Mereka meminta PU Sulbar melakukan perubahan titik nol jalan dari Ba’ba Sondong ke Langngoliang Desa Kabiraan.

Pihak DPRD dan Pemkab Majene beralasan perubahan titik nol poros Salutambung-Urekang itu karena usulan sejumlah pihak yang mengatasnamakan diri masyarakat Ulumanda. Mereka berdalih demi memuluskan akses menuju pusat kecamatan Ulumanda di Desa Kabiraan.

Atas permintaan itu, Dinas PU Provinsi Sulbar meminta surat permohonan perubahan titik nol jalan kepada Gubernur Sulbar.

Kepala Seksi Pemeliharaan dan Pengawasan Jalan Dinas PU Sulbar, Sundri mengatakan, perubahan titik nol pembangunan jalan hanya bisa dilakukan jika mendapat surat keputusan gubernur. “Kalau kita mau lakukan perubahan titik nol silahkan menyurat ke gubernur. Kami tidak berani merubah perencanaan kalau tidak ada SK gubernur,” kata Sundri.

Penolakan perubahan titik nol jalan ini tidak hanya datang dari mahasiswa, Kepala Desa Popenga Kecamatan Ulumanda, Muslimin mengatakan hal senada.

Kepada wartawan, Jumat, 9 Februari 2018. Muslimin mengatakan titik terparah jalan poros Salutambung-Urekang berada di gunung Tandeallo dalam ruas Ba’ba Sondong-Urekang.

Sehingga kata dia mestinya tidak boleh terabaikan titik tersebut. “Kalau saya tidak masalah titik nolnya di Langngoliang, tapi yang rusak dibagian bawah kan tidak seberapa dibanding yang di atas (Tandeallo, red) maka sebaiknya tetap dikerjakan di bagian atas,” ucap Muslimin.

Mahasiswa Mengancam Gelar Aksi Unjuk Rasa

Terpisah, Ketua organisasi mahasiswa Desa Tandeallo Aldi mengungkapkan keprihatinannya terhadap keputusan sepihak Pemkab Majene yang akan menyurati gubernur Sulbar terkait perubahan titik pembangunan jalan Ulumanda. “Ini sangat tidak adil, kita di bagian atas selamanya akan menandu orang sakit ke Puskesmas jika jalan ke gunung Tandeallo tidak dikerjakan,” ucap Aldi.

Aktivis Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) Majene ini meminta agar niat Pemkab Majene bersama DPRD diurungkan, karena kebijakan itu kata dia, sama sekali tidak berpihak pada masyarakat empat desa di bagian pegunungan Kecamatan Ulumanda.

“Kami akan melakukan aksi unjuk rasa kalau tetap dilakukan perubahan. Saya pribadi akan menghadang pekerja jalan,” ancam Aldi.

Untuk diketahui, jalan poros Salutambung-Urekang tahun ini mendapat kucuran dana alokasi umum (DAU) melalui Dinas PU Pemprov Sulbar, dengan nominal anggaran Rp9,5 miliar. Sesuai perencanaan dana ini akan difokuskan pada peningkatan dan pemeliharaan jalan untuk ruas Ba’ba Sondong-Urekang. Namun belakangan, DPRD dan Pemkab Majene meminta agar dipindahkan ke ruas Langngoliang-Kabiraan.

Titik nol merupakan tempat awal dimulainya pengerjaan jalan Salutambung – Urekang pada tahun 2018 ini. Rencananya pihak PU Provinsi Sulbar menempatkan titik nol itu di Dusun Ba’ba Sondong, jalan yang mengalami kerusakan sangat parah. Namun sejumlah pihak berencana menggeser titik nol itu di Langngoliang luas Tabojo -Kabiraan sehingga titik terparah diabaikan.
Padahal empat desa di bagian atas melewati jalur ini dengan susah payah.

Bahkan setiap saat, warga ditandu dari pegunungan Ulumanda menuju ke Puskesmas untuk berobat
Melewati jalur ini.(cha/s)

Berita Terkait: