Merasa Laporan Klien Tak Dihiraukan, Pengacara Dan Polisi Bersitegang di Mapolres

M2U09681_AVI1_Canopus_DV_PAL_0001

 

Banniq.com.Pasangkayu –

Merasa laporan kliennya tak ditanggapi, pengacara dan polisi akhirnya terlibat adu mulut di kantor Polres Mamuju Utara (Matra) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) beberapa waktu lalu, awalnya kedatangan  pengacara kekantor polres matra mempertanyakan laporan kliennya tentang kasus pencurian kelapa sawit yang disertai dengan pengancaman bulan mei lalu, namun hingga kini kasus tersebut belum menemui titik terang dan bahkan pihak kepolisian belum menetapkan satupun tersangka.

 

Awalnya Pengacara yang di ketahui bernama Brodus SH dan Albertus SH datang kepolres mamuju utara mendampingi Alex dan Hemsi kliennya untuk mempertanyakan kasus pencurian yang disertai dengan pengancaman yang diduga  dilakukan oleh sejumlah oknum preman yang mengaku pemilik lahan di areal perkebunan kelapa sawit blok C26 yang selama ini dikelola oleh pendeta herman, justeru terlibat adu mulut dengan pihak kepolisian.

Ketegangan terjadi saat pengacara memperlihatkan fotocopy sporadik bukti kepemilikan lahan yang selama ini dikelola pendeta herman kepada penyidik, namun hal tersebut berubah menjadi ajang perdebatan antara polisi dan pengacara. pengacara menuding segerombolan orang yang datang menerobos dan melakukan pencurian di areal blok C26 yang hingga kini juga masih diklaim oleh Pt mamuang (Astra Group) sebagai areal HGU sangat tidak mendasar.

Sementara kasus pencurian yang disertai dengan pengancaman dilaporkan oleh alex dan hemsi sejak bulan mei lalu namun hingga kini belum ada peningkatan terkait dengan pelaporan tersebut, sehingga Brodus SH dan Albertus SH pengacara alex dan hemsi mempertanyakan penanganan kasus yang hingga kini belum satupun tersangka yang di tetapkan oleh polisi, saat ketegangan terjadi polisi berdalih kasus tersebut dalam pengembangan penyelidikan.

Brodus SH pengacara alex yang dikonfirmasi mengaku heran dan mempertanyakan keberadaan sejumlah oknum preman yang berada di lokasi kelompok tani perintis yang selama ini dikelola oleh hemsi dan alex serta pendeta herman justeru diduduki sekolompok preman yang mengaku kebun tersebut adalah miliknya dengan dalih mereka tak dibayarkan perusahan saat menumbang. sementara surat – surat bukti kepemelikan sudah di perlihatkan kepihak kepolisian namun belum ada titik terang terkait penanganan kasus yang dilaporkan klien saya terangnya. (Smd/joni)

Berita Terkait: