Pengelolaan Budaya dan Kearifan Lokal Sebagai Bahagian dari Sensor Mandiri

Peserta sosialisasi budaya sensor mandiri, Lembaga Sensor film nasional(photo:dok)

#ADVERTORIAL#

BANNIQ.COM.Sulbar. Pengaruh yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi informasi melalui berbagai media, antara lain melalui film dipandang dapat berdampak pada perkembangan mental dan keperibadian masyarakat terutama bagi generasi milenial saat ini, untuk itu Lembaga sensor film nasional melalui program Sensor mandiri, terus mengsosialisasikan pentingnya Sensor mandiri berupa prilaku secara sadar dalam memilah dan memilih tontonan.

Lembaga Sensor film nasional, rabu(5/9/2018) menggelar kegiatan sosialisasi Budaya Sensor Mandiri bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulbar, dimediasi oleh Penggiat Budaya Mandar Muhammad Adil, dihadiri oleh puluhan pelajar,  mahasiswa ,budayawan, penggiat seni  serta seniman se Sulbar.

Ketua Komisi III Lembaga Sensor film nasional Prof.Dr.Mukhlis paeni, menyerahkan cindramata ke Kadis Dikbud yang juga PLH Sekprov H.Arifuddin Toppo(photo:dok)

Materi Kegiatan sisialisasi tersebut  disampaikan oleh ketua Komisi III Lembaga Sensor Film Nasional yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Prof.Dr.H.Mukhlis Paeni, yang dimoderatori Pimred Banniq.com, Abdul Samad.

Ketua tim penilai penghargaan bintang jasa RI Kemendikbud tersebut menyampaikan bahwa potensi Budaya yang dimiliki oleh sulbar jauh melebih dengan potensi sumber daya alamnya, untuk itu budaya harus terus dikelola dengan sebuah kreativitas setiap generasi terutama bagi generasi Milenial.” Budaya garus terus dikelola dan dukembangkan dengan kreativitas tinggi, karena jika tidak budata itu akan punah, itulah bedanya dengan SDA karena kalau SDA dikelola secara terus menerus pada akhirnya akan habis,” Tuturnya.

Dalam kaitan itu, kata Mukhlis Lembaga sensor film melalui program sensor mandiri, budaya dapat menjadi bagian untuk melakukan sensor terhadap konten-konten yang tidak mendidik dan bertentangan dengan budaya dan karakter Keindonesiaan, terutama bagi generasi milenial dan generasi Z.” Sekarang tayangan-tayangan melalui film banyak tidak mencerminkan konten-konten keindonesiaan, hanya berbahasa Indonesia namun banyak konten yang tidak sesuai dengan karakter dan budaya  bangsa, untuk itu bersama lembaga sensor film nasional, masyarakat diharap dapat  melakukan pemilahan dan pemilihan tontonan  untuk menangkal dampak dari tayangan yang tidak sesuai dengan karakter dan budaya bangsa,” Imbuhnya.

Peserta sosialisasi, yang merupakan pemerhati budaya mandar, Muh.Taufik Muis, juga sepakat untuk menghadirkan budaya dan kearifan lokal untuk menangkal pengaruh yang ditimbulkan dari tayangan film baik di layar lebar msupun di Layar Televisi.” Budaya harus menjadi bagian untuk menangkal pengaruh yang ditimbulkan oleh tayangan-tayangam yang tidak mendidik,” ucapnya.

Hanya kata Taufik, Lembaga sensor film nasional juga harus lebih berperan dalam melakukan fungsi penyensoran, seperti evaluasi terhadap klasifikasi umur terhadap tontonan juga waktu penayangan yang harus disesuaikan dan dikondisikan  karena Indonesia terbagi atas tiga waktu, yakni Wib,Wita dan  WIT.

Peserta lainnya, Suparman sopu lebih menekankan perlunya literasi yang lengkap dalam memproduksi sebuah konten film,agar apa yang diproduksi melalui sebuah film sesuai dengan fakta dan sejarah yang ada.” Selain budaya, kekayaan literasi juga sangat penting agar sejarah yang diproduksi lewat film sesusai fakta dan sejarah dari sumber-sumber literasi,” ungkapnya.

Terkait itu, pada closing statetemen Mukhlis paeni, membenarkan bahwa literasi dan sumber tertulis memang sangat penting dalam penulisan ataupun pembuatan satu cerita film yang bernilai sejarah, tetapi kadang penulis ataupun sejarawan lupa ketika sumber tertulis sudah ada namun masih memasukkan mitos dalam sebuah cerita.” Ketika sumber tertulis sudah ada, maka sebaiknya mitos itu tidak lagi digunakan sebagai sumber penulisan, tetapi ini kadang dilupa oleh para penulis dan sejarawan,” Pungkasnya.

Sementara itu, Mediator kegiatan Sosialisasi sensor budaya mandiri, Muh.Adil.yang lebih akrab dengan nama panggung Adil Tambono, mengatakan kegiatan sosialisasi tersebut, sebagai prakobdisi untuk gelaran seminar budaya Mandar di tahun 2019.” Kita berharap kegiatan ini sebagai prakondisi dan cikal bakal untuk gelaran seminar budaya Mandar tahun depan,” Pungkas Penggiat seni budaya yang telah melakukan pentas di beberapa daerah di Indonesia ini.(smd)

Berita Terkait: