Percikan Pemikiran dari Seberang, untuk Pelaksanaan Sandeq Race yang Lebih Baik

Dr.Muslimin Madjid,M.Pd.(photo:repro)

BANNIQ.COM.Sulbar. Upaya Pemrov Sulbar untuk mengenalkan kebudayaan Mandar melalui pengembangan Pariwisata, seperti Lomba Balap Perahu Sandeq atau Sandeq Race, Perahu tradisional yang dulu digunakan nenek moyang suku Mandar melayari berbagai wilayah di Nusantara hingga Mancanegara.

Sandeq Race(SR) yang merupakan Agenda Tahunan Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat, mengalami pasang surut keberhasilan penyelenggaraan dilihat dari berbagai aspek, seperti aspek budaya, aspek ekonomi maupun aspek peningkatan kepariwisataan.

Untuk mencapai hasil pelaksanaan SR dengan muatan berbagai aspek tersebut, Pemprov Sulbar harus mempersiapkan perencanaan yang matang setiap gelaran SR setiap tahun.

Beberapa catatan agar SR lebih berkesan setiap pelaksanaannya, Pemerhati  Sosial kemasyarakatan, budaya dan Pariwisata dari Kutai Timur Kaltim, Doktor Muslimin,M.Pd, menyampaikan Percikan Pemikiran untuk pelaksanaan SR di masa yang akan datang, Jum’at(17/8/2018) vi WA.

Kata Dia,keberhasilan  pelaksanaan SR itu harus ditinjau dari berbagai aspek antara lain aspek budaya.  SR adalah even pelestariam budaya lokal mandar dan setiap tahun di laksanakan oleh pemprov.sulbar melalui Dinas pariwisata sulbar.” Pada  aspek ini relatif sudah clear karena subtansi tujuannya sudah terlaksana meskipun masih perlu pembenahan supaya lebih menarik,” Ungkap Putra Mandar yang bekerja sebagai ASN di Kabupaten Kutai Timur ini.

Selanjutnya dari aspek pariwisata yang  bernilai ekonomi,.sebut Muslimin sebagai aspek yang belum nampak dan perlu di benahi secara serius,.

SR bila dikembangkan dan dikelola dengan baik Sambung Muslimin, dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Sulbar kata Dia,  memiliki potensi pariwisata yangg cukup menjanjikan jika di kelola dengan baik,.,.yaitu : Wisata bahari, dan wisata alam,..wisata pantai, dan sungai. Destinasi-destinasi  ini memiliki pemandangan alam yang cukup baik dan unik seperti negeri di atas awan yang ada di Toraja, dan tentu beberapa destinasi ini sudah bamyak di kunjungi turis lokal.

Kedua Wisata kuliner,.sulbar (mandar) memiliki makanan khas yang unik dan tidak di miliki daerah lain, misal golla kambu, loka sattai, dan lain-lain.

Ketiga Wisata budaya. Sulbar(mandar) juga memiliki budaya lokal yang khas dan unik misal saiyyang pa’tu’du, parrawana, dan lain-lain

” Ketiga aspek ini bisa di elaborasi dengan kegiatan SR sehingga dampak ekonominya ke masyarakat akan terasa,” Ujarnya.

Guna lebih mematangkan pelaksanaan SR dilihar dari aspek ekonom masih kara Muslimin, Even SR dapat  dijadikan satu kalender wisata dengan even FPAP yang ada di polman.

Kemudian Wisata kuliner diberikan satu ruang atau tempat (semacam rest area) pada saat even SR dan PIFAF  berlangsung.

Selanjutnya pembenahah   serius destinasi-destinasi pariwisata itu dengan menjadikan skala prioritas dalam perencanaan program dan kegiatan OPD terkait.

” Poin ke tiga di atas tentu memerlukam waktu yang cukup untuk membenahinya karena akan melibatkan OPD lain (lintas sektoral),.karenanya tahun ini harus serius diperhatikan kalau ingin melihat adanya perubahan,” Imbuh Dosen dan Peneliti di Berbagai PTS di Kaltim ini.

Hal tersebut sangat urgen diperhatikan kata Muslimin karena  pariwisata merupakan sumber ekonomi yang cukup tinggi dan strategis bagi negara dan daerah,.multiplayer effecknya sangat luar biasa tinggi, dapat mengurangi pengangguran, kemiskinan dan pada akhirnya dapat menambah pendapatan daerah negara dan daerah,.

Untuk itu demi pelaksanaan SR yang lebih bermakna dan bernilai kata dia, Sebaiknya di lakukan evaluasi secara menyeluruh even SR itu tujuannya untuk mengukur dan mengetahui plus minusnya dan sekaligus mendapatkan data awal dalam menyusun perencanaan berikutnya

Juga kata dia, perlu dilakukan kerjasama dengan Peguruan Tinggi untuk mengkaji nilai ekonomi dari potensi-potensi  pariwisata itu.

Dan yang tidak kalah penting kata Mantan Komisiober KPU Kutai Timur ini, Forum Group Discussion dengan melibatkan semua stake holder.” Yang tidak kalah pentingnya adalah FGD yang melibatkan semua stakeholder yang terkait dalam rangka menjaring data untuk perencanaan kegiatan berikutnya,.dan kerjasama dengan OPD terkait lainnya baik di pemprov.sulbar maupun OPD-OPD terkait di kabupaten se sulbar,” Pungkas Doktor yang meraih Gelar Doktor Bidang Pendidikan di Universitas Mulawarman ini.(smd)

Berita Terkait: