Sponsor Riset Sejarah Tapal Batas Indikatif, Jawab Sorotan Terkait Agenda ke Belanda

Guru besar Unhas Prof.Dr.Muh.Akbar, (photo:repro)

BANNIQ.COM.Sulbar. Program Riset  bukti Sejarah tentang wilayah Perbatasan Sulbar (Eks Sulsel) yang dinisasi dan diback-Up LP2M Unhas Bekerja sama dengan Nuffic di Nederland (NL) Belanda dan akan mengikut sertakan Gubernur dan Beberapa OPD Sulbar untuk bersama-sama ke Belanda dalam rangka riset sejarah tersebut.

Selain Tim dari Unhas dan Pemprov, teragendakan sebelumnya untuk berangkat bersama memgikuti Kegiatan tersebut, Penulis dan Pemerhati Budaya Maritim Mandar, Muh.Ridwan Alimuddin, namun karena alasan sponsor tidak bisa membiayai bila lebih dari 4 Hari., maka Ridwan memutuskan untuk tidak berangkat.”saya komunikasi dengan teman-teman di Belanda, bahwa kalau untuk betul-betul riset, tdak cukup waktu hanya 3 atau 4 hari, mesti lebih dari itu, nah karena pihak sponsor hanya nampu menanggung akomodasi selama 4 hari, selebihnya saya diminta untuk pakai Uang Pribadi,” Terang Ridwan., Senin(13/8/2018)

Terpisah, Kordinator tim Riset  Unhas  untuk keberangkatan ke Belanda, Prof.Dr.Akbar  via WA, menjelaskan  bahwa program  tersebut  merupakan inisiasi UNHAS untuk mendapatkan bukti sejarah tentang wilayah perbatasan Sulbar (ex Sulsel) yang diketahui masih disimpan di museum dan perpustakaan di NL.

” Saya heran kenapa media ributkan.? Saya diback-up LP2M dan Lembaga Nuffic di NL dalam hal pendanaan.,” Ujar mantan Kepala Bappeda Sulbar ini.

Dengan adanya bukti sejarah tersebut itu nantinya, sambung Prof Akbar, maka posisi Sulbar bisa kebih kuat dalam mempertahankan wilayah-wilayahnya, terutama pulau-pulau kecil yang berbatasan dan diklsim provinsi lain.

” Jangan sampai tragedi Lerek-lerekang terulang kembali di  Kepulauan Bala-balakang, belum lagi dengan Donggala yang hingga kini masih belum tuntas persoalan tapal batasnya dengan Sulbar,” Imbuhnya.

Lebih jauh Prof Akbar menyarankan agar wartawan juga ikut berjuang dengan caranya untuk memastikan kepemilikan wilayah.

” saya bisa batalkan kegiatan ini dan UNHAS tidak merugi karena pembatalan tersebut, kami hanya ingin membantu Pemprov hingga kami sertakan Gubernur dan 3 orang jajaran Pemprov yang diutus beliau kalau memang tidak ada kami batalkan keikutsertaan mereka ,” Timpalnya.

Ia berharap Semoga informasi  ini bisa mengklarifikasi berita tentang keberangkatan Aparatur Pemprov sulbar. Mereka kata Prof Akbar,  hanya perlu menyediakan persyaratan pengurusan visa dan biaya ke Jakarta. Sisanya ditanggung (Unhas dan Nuffic NL).

ari Perihal tidak diberangkatkannya Ridwan Alimuddin, kata Akbar, karena Ridwan tidak dapat memenuhi persyaratan pengajuan visa yang ditentukan oleh Kedubes Belanda, antara lain saldo minimal rek selama 3 bulan dan pertanggungan asuransi minimal 50.000 USD.

Adapun persyaratan tersebut ksta Prof Akbar yakni:
1. Paspor Berlaku
2. Pas Photo 3,5X4,5 2 Lembar
3. Surat Sponsor Dalam Bahasa Inggris
4. Surat Undangan dari Amsterdam
5. Kartu Keluarga ( Translate Bahasa Inggris)
6. Foto Copy Akte Nikah ( Translate Bahasa Inggris )
7. Refensi Bank dan Rekening Koran 3 Bulan Terakhir Saldo Min 50Jt
8. Asuransi Perjalanan peratanngung jawaban Uang senilai USD 50.000
Atau EURO 30.000
9. Photo Copy KTP

” Itu persyaratan pengurusan visa. Berlaku untuk siapa saja termasuk Ridwan. Coba baca persyaratan pengurusan visa di atas. Ridwan mengaku tidak bisa memenuhi. Jadi tidak diputuskan secara sepihak.,” Tandasnya.

Dirinya dan tim Unhas masih kata Prof Akbar, yang  berangkat Tapi dia sebagai  orang Sulbar, maka ia concern untuk mengajak mereka.

Menanggapi balik hal tersebut, Ridwan Alimuddin sebagai peneliti yang sudah sangat matang pengalaman riset kebudayaan kemaritiman ini  mengatakan bahwa, idealnya penyelenggara yang respon untuk mengurus kalau memang undang peneliti terlibat jangan peneliti yang terkesan meminta-minta.” Idealnya Diknas yang respon urus kalau memang undang peneliti terlibat, bukan kita sebagai peneliti ysng minta-minta,” Ujar Jetua Aliansi Jurnalis Indonesia(AJI) kota Mandar ini.

Lebih jauh Iwan, sapaan akrab Ridwan Alimuddin mengatakan terkait persyaratan dari Kedubes Belanda, sebenarnya ada pihak keluarga yang ingin pinjamkan dana supaya ada saldo tersebut, tapi dia tidak urus karena tidak ada lampu hijsu dari pak Arifuddin Toppo(Kadis Dikbud Sulbar) terksit hal tersebut, dirinya juga pernah bicara dengan prof akbar tetapi tidak bercerita banysk tentang hal tersebut.

Dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulbar Drs.H.Arifuddin Toppo, mengatakan untuk urusan tersebut dirinya tidak tahu, yang mengetahui adalah Prof. Akbar.” Saya tidak dinda yang tahu pak prof Akbar,” Ujarnya Singkat.

Sementara itu, Karo Tata Pemerintahan Drs.H.Abd.Wahab Hasan Sulur, yang juga diagendakan untuk ikut berangkat ikut kegiatan tersebut, mengatakan bahwa sebenarnya kegiatan tersebut bukan urusan budaya tetapi masalah batas ibdikatif tetapi bersinggungan dengan sejarah, kemudian untuk orang yang akan berangkat semuanya belum pasti.” Sebenarnya bukan masalah budaya ini berangkat, terkait masalah batas indikatif tetapi ada singgungan dengan sejarah, Belumpi pasti semua berangkat, sponsor Unhas juga belum soalnya sudah  banyak yang soroti padahal Unhas yang sponsor,” pungkasnya(smd)

Berita Terkait: